7 Hambatan Kreatif

7 09 2008

Siapa bilang kreativitas hanya milik para seniman ?. Siapa bilang kreativitias hanya milik orang muda ?. Siapa bilang orang sukses saja yang kreatif ?. Menurut Carol K. Bowman (Creativity in Business), setiap orang memiliki kreativitas. Bahkan, mereka yang sudah di atas 45 tahun sekalipun masih dianugerahi kemampuan untuk menjadi kreatif. Pendeknya, selama otak masih berfungsi, kreativitas masih mengalir dalam diri seseorang. Lalu, jika demikian mengapa banyak orang belum mampu memanfaatkan kreativitas mereka secara optimal ?.

Ternyata ada banyak hambatan untuk menjadi kreatif, 7 diantaranya dapat Anda simak disini. Kenali hambatanhambatan tersebut, siapa tahu beberapa diantaranya dapat Anda temukan disini ?. Lalu ambilah strategi dan tindakan untuk mengasah kembali daya kreativitas Anda.

Hambatan 1 :
Rasa Takut “Mengapa kamu tidak mencoba cara baru saja untuk menyelesaikan pekerjaan ini dengan lebih cepat ?”. “Ah, saya takut gagal. Kalau saya gagal atau salah, saya pasti dimarahi, bos! Jadi lebih baik saya kerjakan saja sesuai dengan yang diperintahkan”. Yah, rasa takut gagal, takut salah, takut  dimarahi, dan rasa takut lainnya sering menghambat seseorang untuk berpikir kreatif. Tahukah Anda bahwa Abraham Lincoln sebelum menjadi presiden, berkali-kali kalah dalam pemilihan sebagai senator dan juga presiden ?. Tahukah Anda bahwa Spence Silver (3M) yang gagal menciptakan lem kuat, akhirnya menemukan ‘post-it’ notes ?.

Hambatan 2 :
Rasa Puas “Mengapa saya harus coba sesuatu yang baru ?. Dengan begini saja saya sudah nyaman”. “Saya sudah sukses. Apa lagi yang harus saya cemaskan ?”. Ternyata bukan masalah saja yang bisa menjadi hambatan. Kesuksesan, kepandaian dan kenyamananpun bisa jadi hambatan. Orang yang sudah puas akan prestasi yang diraihnya, serta telah merasa nyaman dengan kondisi yang dijalaninya seringkali terbutakan oleh rasa bangga dan rasa puas tersebut sehingga orang tersebut tidak terdorong untuk menjadi kreatif mencoba yang baru, belajar sesuatu yang baru, ataupun menciptakan sesuatu yang baru. Apple Computer yang pernah menjadi nomor satu sebagai produsen komputer, pernah tergilas oleh para pemain baru di industri ini karena Apple telah terpaku pada keberhasilannya sebagai yang nomor satu, sehingga menjadi lengah untuk menawarkan sesuatu yang baru pada target pasar sampai perusahaan ini terhenyak dengan munculnya pesaing yang berhasil menggeser kedudukan Apple. Namun, belajar dari kesalahan, Apple berusaha bangkit kembali dengan produk-produk baru andalan mereka.

Hambatan 3 :
Rutinitas Tinggi “Coba-coba yang baru ?, Aduh mana sempat ?. Pekerjaan rutin saja tidak ada habishabisnya”. Apakah kalimat ini pernah Anda ucapkan ?. Jika ya, berarti rutinitas pernah menjadi hambatan bagi Anda untuk memanfaatkan kemampuan Anda untuk berpikir kreatif. Mungkin Anda perlu menyisihkan waktu khusus untuk mengisi ‘kehausan’ Anda akan kreativitas, misalnya baca buku tiap minggu (anda bisa menemukan ide brilian yang bisa Anda adaptasi, atau perbaiki), perluas lingkungan sosial Anda dengan mengikuti perkumpulan-perkumpulan di luar pekerjaan Anda (siapa tahu Anda bertemu dengan orang-orang yang bisa mendukung Anda ke jenjang sukses). Tahukah Anda bahwa Mariah Carey sengaja menyisihkan waktu dari kegiatan rutinnya sebagai penyanyi latar untuk memperluas pergaulannya ?. Mariah berusaha masuk ke lingkungan pergaulan para petinggi di dunia musik internasional sebelum akhirnya bertemu dengan produser musik yang bersedia mensponsori album pertamanya yang langsung menjadi hit dunia ?.

Hambatan 4 :
Kemalasan Mental “Untuk mencoba yang baru berarti saya harus belajar dulu. Aduh, susah. Terlalu banyak yang harus saya pelajari. Biar yang lain saja yang belajar”. “Memikirkan cara lain ?, Wah, sekarang saja sudah banyak yang harus saya pikirkan. Lagipula memikirkan cara baru bukan tugas saya, biarlah atasan saya saja yang memikirkannya”. Ini merupakan beberapa contoh kemalasan mental yang menjadi hambatan untuk berpikir kreatif. Tidak heran jika orang yang malas  menggunakan kemampuan otaknya untuk berpikir kreatif sering tertinggal dalam karir dan prestasi kerja oleh orang-orang yang tidak malas untuk mengasah otaknya guna memikirkan sesuatu yang baru, ataupun mencoba yang baru. Tahukah Anda bahwa Thomas Alva Edison tidak berhenti  berusaha untuk memikirkan cara yang lebih baik dari eksperimen sebelumnya sampai puluhan kali sebelum akhirnya ia menemukan lampu pijar ?. Bayangkan apa yang akan terjadi jika pada kegagalan pertama, Edison malas berpikir untuk mengasah kreativitasnya dan melanjutkan ke eksperimen-eksperimen berikutnya ?.

Kesalahan 5 :
Birokrasi “Saya bosan menyampaikan ide lagi. Ide saya yang enam bulan lalu saya sampaikan, belum ada kabarnya apakah diterima atau tidak ?”. Seringkali karyawan atau pelanggan mengeluh karena ide atau usulan mereka tidak ditanggapi. Hal ini bisa saja terjadi karena proses pengambilan keputusan yang lama, atau karena proses birokrasi yang terlalu berliku-liku. Kondisi seperti ini sering mematahkan semangat orang untuk berkreasi ataupun menyampaikan ide dan usulan perbaikan. Biasanya semakin besar organisasi, semakin panjang proses birokrasi, sehingga masalah yang terjadi di lapangan tidak bisa langsung terdeteksi oleh top management karena harus melewati rantai birokrasi yang panjang. Belajar dari pengalaman dan hasil studi di bidang manajemen, banyak organisasi dunia yang sekarang memecah diri menjadi unit-unit bisnis yang lebih kecil untuk memperpendek birokrasi agar bisa lebih gesit dalam berkreasi menampilkan ide-ide segar bagi para pelanggan ataupun dalam kecepatan mendapatkan solusi.

Kesalahan 6 :
Terpaku pada masalah Masalah seperti kegagalan, kesulitan, kekalahan, kerugian memang menyakitkan. Tetapi bukan berarti usaha kita untuk memperbaiki ataupun mengatasi masalah tersebut harus terhenti. Justru dengan adanya masalah, kita merasa terdorong untuk memacu kreativitas agar dapat menemukan cara lain yang lebih baik, lebih cepat, lebih efektif. Tahukah Anda bahwa Colonel Sanders menghadapi kesulitan dalam menjual resep ayam goreng tepungnya ?. Namun, ia tidak terpaku pada kesulitan tersebut, ia memanfaatkan kreativitasnya sampai akhirnya ia mendapat ide untuk menggunakan sendiri resep tersebut dengan mendirikan restoran cepat saji dengan menu utama ayam goreng tepung. Idenya ini terbukti manjur membukukan suksesnya sebagai salah satu pebisnis waralaba terbesar di dunia.

Kesalahan 7 :
“Stereotyping” Lingkungan dan budaya sekitar kita yang membentuk opini atau pendapat umum terhadap sesuatu (stereotyping) bisa juga menjadi hambatan dalam berpikir kreatif. Misalnya saja pada zaman Kartini, masyarakat menganggap bahwa sudah sewajarnyalah jika wanita tinggal di rumah saja, tidak perlu pendidikan tinggi, dan hanya bertugas untuk melayani keluarga saja, tidak usah berkarir di luar rumah. Apa jadinya jika wanitawanita hebat seperti Kartini, Dewi Sartika, Tjut Njak Dhien menerima saja semua pandangan umum yang berlaku di masyarakat saat itu ?. Mungkin Indonesia tidak akan pernah menikmati jasa yang diperkaya oleh keterlibatan para wanita profesional, misalnya : mendapatkan layanan dokter wanita, menikmati kreasi arsitek dan seniman wanita, mendapatkan hasil didikan guru wanita, mengirim diplomat wanita sebagai duta Indonesia, atau bahkan dipimpin oleh seorang presiden direktur, bahkan presiden (pimpinan negara) wanita. Kreativitas memang masih harus ditunjang dengan senjata sukses lainnya. Tetapi, orang yang memiliki dan bisa mengoptimalkan kreativitas mereka bisa menggeser mereka yang tidak  memanfaatkan kreativitas mereka. Lalu, bagaimana jika Anda mengalami hambatan untuk mengoptimalkan kreativitas Anda ?. Tidak perlu panik. Kenali hambatannya, atasi, dan ambil tindakan untuk mengasah kembali kreativitas Anda. Kreativitas itu ibarat sebuah intan, semakin diasah semakin berkilau. Jadi sudah siapkah Anda untuk membuat kreativitas Anda agar semakin berkilau ?.Oleh : Prof. Roy Sembel




Indonesia Sarang Para Ilmuwan Muda Dunia

3 09 2008

”Seperti halnya satu permainan papan di mana kotak yang berisi aturan main hilang sejak lama, tidak ada seorang pun yang tahu persis bagaimana bisa memenangi (hadiah) Nobel.” (Hal Cohen, ”The Scientist”, 28/10/2002)

Agustus kini diperkaya dengan pelbagai event ilmiah. Ada Asian Science Camp di Bali dan LIPI Expo, serta Ritech Expo, dua-duanya di Jakarta. Ini membesarkan hati. Kita mengenang dan merayakan bulan kemerdekaan tidak semata dari sisi sejarah, tetapi juga dari sisi sains dan teknologi. Itulah dimensi yang seyogianya mewarnai perjalanan sejarah kebangsaan Indonesia.

Sekadar tambahan, Rabu (6/8) ini di LIPI juga berlangsung Temu Ilmiah Peneliti Muda Indonesia, ajang yang tidak kalah penting untuk mengenal sosok peneliti muda Indonesia yang telah menorehkan prestasi, baik di lingkup nasional maupun internasional.

Jadi, meski anggaran riset nasional masih di bawah 0,1 persen, peneliti Indonesia masih tetap bisa berprestasi dan berkontribusi bagi pengembangan sains nasional. Tentu menarik untuk diketahui, apa yang mendorong para ilmuwan muda tersebut setia pada sains, bidang yang di satu sisi semakin dinilai penting bagi upaya peningkatan kemakmuran dan kejayaan satu bangsa, tetapi pada sisi lain masih dipandang nonprioritas.

Sosok ilmuwan

Amy, mahasiswi berusia 20-an tahun, pernah bertanya dalam salah satu forum online mengenai karakteristik pribadi yang harus dikembangkan bila seseorang ingin menjadi ilmuwan yang baik. Jawaban pun muncul dari berbagai penjuru.

Seorang guru besar mencoba memberi jawaban dengan mengangkat ”SCIENCE” sebagai akronim. ”S” melambangkan bidang studi yang dihayati dengan serius. ”C” adalah curiosity dan kemauan untuk memperbaiki pendapat manakala muncul fakta yang bertentangan dengan pandangan yang kita yakini. ”I” adalah intelligence karena pengetahuan yang dituntut oleh sains sangat tinggi. ”E” adalah enthusiasm agar siapa pun yang ingin menjadi ilmuwan kuat manakala menemui kekecewaan. ”N” melukiskan never-ending attention to detail yang akan membuat riset calon ilmuwan bisa bertahan dari ujian rekan sejawat. ”C” adalah commitment terhadap hidup pribadi dan profesional yang jujur dan bertanggung jawab. Terakhir, ”E” untuk enduring respect dan apresiasi terhadap karya ilmuwan terdahulu yang telah membuka jalan bagi pekerjaan kita.

Komentar lain masih banyak, tetapi umumnya menyebut ”rasa ingin tahu”, ”ulet”, ”mengandalkan data”, dan ”punya kemampuan analisis data” sebagai sifat-sifat penting lain.

Karena dipenuhi dengan proses yang sering tidak jelas ujungnya, tak jarang peneliti dilanda keletihan mental kalau bukan frustrasi. Kadang hanya keyakinan kepada diri sendiri dan keyakinan bahwa pengetahuan yang sedang diteliti akan bernilai bagi orang banyaklah yang membuat peneliti bisa terus bertahan.

Ada pula penelitian di bidang psikologi, juga ilmu sosial, yang coba mengungkap sifat-sifat yang bisa mendorong seseorang untuk menerjuni dan unggul di bidang ilmiah. Namun, secara umum dipercayai bahwa anak yang tumbuh di lingkungan yang di sekelilingnya dipenuhi oleh orangtua dan orang-orang yang berpendidikan menyukai pemikiran, penuh rasa ingin tahu, dan senang memberi dorongan kepada anak untuk mengembangkan rasa ingin tahunya mempunyai peluang lebih baik untuk menjadi seorang ilmuwan dibandingkan dengan anak lain yang tidak memiliki hal-hal di atas.

Akhirnya, peneliti dari Argonne National Laboratory, Ali Khounsary, mengatakan bahwa—meski tidak ada jaminan— kombinasi orangtua yang tercerahkan dan penuh dedikasi, serta lingkungan rumah, sekolah, dan guru, role model, serta teman, bisa mendorong seorang anak untuk belajar dan menjelajahi dunia dan mungkin memilih karier di bidang sains (www.newton.dep.anl.gov).

Dalam Temu Ilmiah Peneliti Muda di LIPI, atau pertemuan siswa SMA dengan peneliti dunia dan pemenang Nobel, diharapkan muncul pula penjelasan mengenai hal-hal yang terkait dengan karakter untuk menjadi ilmuwan.

Menuju Nobel?

Penggagas Asian Science Camp Prof Yohanes Surya acap mengaitkan program Olimpiade Fisika atau acara di Bali sebagai jalur untuk menuju Hadiah Nobel. Dengan program itu, sepertinya hadiah Nobel menjadi one step closer. Sebagai sarana untuk memotivasi tentu saja tidak ada kelirunya.

Namun, selanjutnya, program pengembangan ilmuwan masih perlu dilengkapi dengan segi-segi yang lain. Misalnya saja, kita juga perlu menanamkan daya imajinasi calon ilmuwan? Juga daya konsentrasinya—hal yang semakin relevan ketika distraksi dalam wujud hiburan dan godaan duniawi semakin kuat— serta integritasnya mengingat di tengah masyarakat juga cenderung tumbuh budaya ”jalan pintas” dan ”sukses instan”.

Berikutnya, terlalu berorientasi pada Nobel boleh jadi juga membatasi keleluasaan minat dan imajinasi. Memang setelah pemberian hadiah ke-107 tahun lalu, Nobel tetap diakui sebagai prestise prestasi ilmiah. Namun, di kalangan ilmiah juga muncul kemasygulan bahwa hadiah tersebut terbatas dalam jumlah dan bidangnya, seperti dikemukakan oleh Harriet Zuckerman, penulis buku Scientific Elite yang mengupas hadiah Nobel, para pemenangnya, dan penciptaan kelas yang dimunculkannya pada sains abad ke-20.

Dengan hanya diberikan untuk bidang fisika, kimia, dan kedokteran—di luar perdamaian dan ekonomi—Nobel memang masih menyisakan banyak bidang sains lain, seperti sains kelautan, matematika, dan astronomi. Untuk Indonesia, ketiga bidang terakhir termasuk penting dan sebagian telah menjadi tradisi. Kita juga membutuhkan ilmuwan di bidang-bidang yang berkaitan dengan lingkungan alam kita, seperti vulkanologi dan geologi serta geofisika dan meteorologi.

Dari sisi upaya untuk mencapai apa yang sering disebut sebagai ”stratosfer sains eksklusif” ini, yang dibutuhkan bukan hanya riset super unggul. Ini karena tidak seorang pun tahu secara pasti, bagaimana sebenarnya memenangi hadiah Nobel.

Justru oleh kenyataan itu, yang sebenarnya perlu ditanamkan adalah karakter untuk menjadi ilmuwan sejati dan bukan untuk menjadi pemenang Nobel. Namun, diakui bahwa inisiatif seperti dilakukan oleh Prof Yohanes Surya maupun oleh LIPI melalui Temu Ilmuwan Muda berperan dalam penciptaan massa kritis bagi bergulirnya tradisi ilmiah yang baik untuk penyemaian ilmuwan muda.




Pembodohan Bangsa

31 08 2008

Masalah pendidikan yang selalu muncul dan belum mendapat respons memadai adalah biaya masuk sekolah yang kian tinggi, buku teks mahal dan selalu berganti, kini ditambah rintisan sekolah bertaraf (”bertarif”?) internasional atau RSBI.

Gaung pendidikan dasar gratis dari SD sampai SMP kian tenggelam. Jika mau berpikir realistis, pendidikan gratis sebenarnya hanya mimpi di siang bolong. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) kita masih terlalu berat untuk mewujudkan anggaran pendidikan 20 persen. Yang lebih riil adalah meningkatkan alokasi beasiswa, khususnya bagi siswa dari keluarga miskin, atau menggerakkan kembali GN-OTA yang sudah ada sejak Orde Baru.

Pendidikan yang baik perlu biaya mahal, dipikul pemerintah dan masyarakat bersama-sama. Namun, ketika pemerintah tidak cukup memadai mengucurkan anggaran dan kemudian sekolah harus berkreasi menetapkan aneka pungutan yang memberatkan masyarakat, tuntutan untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas menjadi gugur.

Hiruk-pikuk tentang RSBI yang meresahkan orangtua murid harus disikapi pemerintah. Sebagian sekolah kini menerapkan jalur seleksi yang beragam dan hanya menyisakan sedikit kelas untuk jalur reguler.

Selain jalur RSBI, ada seleksi siswa melalui jalur akselerasi dan prestasi. Kondisi ekstrem di lapangan menunjukkan adanya sebuah SMA yang seharusnya menerima siswa baru 270 orang, tetapi yang melewati jalur reguler hanya tersisa 50 orang. Jalur prestasi mendapat jatah 50 orang, sisanya diterima melalui RSBI dan kelas akselerasi.

Menerima siswa melalui jalur prestasi hingga lebih dari satu kelas sungguh di luar akal sehat. Seseorang tidak bisa hanya dengan menunjukkan bukti selembar sertifikat dan membayar lebih mahal dari jalur reguler, lalu secara otomatis terdaftar sebagai siswa sekolah menengah. Yang seharusnya dilakukan adalah menunjukkan bukti prestasi dan lulus seleksi tes tertulis (misalnya, IPA dan Bahasa Inggris) karena NEM tidak menjadi syarat bagi penerimaan mereka.

Terkait penyelenggaraan RSBI, Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) harus mau menerima kritik dan masukan masyarakat. Namun, Depdiknas seolah lepas tangan dan mengatakan bahwa otonomi daerah memberi kewenangan kepada bupati atau wali kota mengatur pendidikan di wilayahnya.

Program pendidikan yang dirancang pemerintah pusat dan memunculkan persoalan di daerah-daerah seharusnya keberlanjutannya diputus Depdiknas. Dana untuk menopang RSBI kini hampir semua dari pemerintah pusat dan masyarakat. Jadi, Depdiknas harus segera mengambil langkah untuk memutuskan kelayakan RSBI dan beragam jalur penerimaan siswa baru lain agar keresahan masyarakat dapat segera teratasi.

Untuk orang miskin?

Penerimaan siswa melalui jalur reguler kini dikonotasikan sebagai jalur orang miskin. Dana sumbangan pendidikan (DSP) dan SPP bulanan adalah yang termurah dibandingkan dengan jalur RSBI atau akselerasi. Dengan amat sedikitnya bangku tersisa dalam jalur reguler ini, dapat dikatakan, kesempatan orang miskin untuk mendapatkan pendidikan yang baik kian terbatas.

Pendidikan adalah sarana untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, bangsa yang masih berkubang dengan kemiskinan ini justru membatasi gerak orang miskin untuk meraih pendidikan yang lebih tinggi. Proses pembodohan bangsa sedang berlangsung secara progresif dan akan membuat bangsa Indonesia kian terpuruk.

Kebijakan lain di bidang pendidikan yang memunculkan masalah di lapangan adalah terkait pengadaan buku teks. Tahun ini kepala sekolah dan guru tidak berani lagi berjualan buku teks. Sebagian buku teks telah disediakan Depdiknas dalam bentuk soft copy yang dapat diunduh dari internet. Namun, kemampuan sekolah atau siswa dalam mengakses jaringan internet masih amat terbatas. Program e-book berpotensi menjadi sia-sia. Mahalnya buku teks harus disikapi dengan mewajibkan penerbit agar mencetaknya dengan kertas yang lebih murah sehingga harganya terjangkau masyarakat.

Membenahi karut-marut pendidikan merupakan PR pemerintahan SBY yang tinggal beberapa bulan lagi hingga 2009. Tanpa strategi jitu di bidang pendidikan, sebenarnya nasib bangsa ini sedang dipertaruhkan. Sayang, sebagian birokrat pendidikan kurang menyadari hal ini.

Ali Khomsan Guru Besar Fakultas Ekologi Manusia IPB